RILIS Corner – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung memprediksi bahwa bulan Ramadan dan Idul Fitri 1446 H/2025 masih akan berada dalam pengaruh musim hujan. Hal ini disampaikan Koordinator Data dan Informasi BMKG Lampung, Rudi Harianto, dalam program Rilis TV pada Senin (13/1/2025).
Menurut BMKG, puncak musim hujan di Provinsi Lampung berlangsung berbeda-beda di setiap wilayah. Beberapa kabupaten/kota telah memasuki puncak musim hujan sejak November 2024, sementara wilayah lainnya baru akan mengalaminya pada Februari 2025.
“Prediksi kami, Lampung sedang berada di puncak musim hujan pada Januari hingga Februari. Wilayah Lampung yang luas kami bagi menjadi tiga zona untuk memetakan tahap-tahap puncak hujan,” jelas Rudi.
Rudi menjelaskan, wilayah yang memasuki puncak musim hujan pada November 2024 meliputi Pesisir Barat, Lampung Barat, dan sebagian Way Kanan. Meski puncaknya telah lewat, potensi hujan di wilayah ini masih tetap ada.
Sementara itu, pada Januari 2025, puncak hujan terjadi di wilayah utara Lampung, seperti Mesuji, Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, Lampung Tengah, Lampung Timur, dan sebagian Bandar Lampung.
“Untuk Februari, wilayah yang diprediksi mengalami puncak musim hujan adalah Lampung Selatan, Pringsewu, Pesawaran, sebagian Tanggamus, sebagian Lampung Timur, dan sebagian Bandar Lampung,” tambahnya.
Rudi juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah selama musim hujan berlangsung. Ia menyebutkan bahwa meskipun intensitas hujan diprediksi akan berkurang pada bulan Maret 2025, beberapa wilayah Lampung kemungkinan masih diguyur hujan saat Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri.
“Kami memperkirakan intensitas hujan akan menurun pada Maret, namun musim penghujan masih berlangsung,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rudi menjelaskan bahwa masa peralihan atau pancaroba dari musim hujan ke musim kemarau akan terjadi pada April 2025. “Bulan April biasanya memasuki masa pancaroba. Jadi, di bulan Ramadan nanti kemungkinan besar hujan masih ada, tetapi intensitasnya sudah berkurang,” tutup Rudi.
