Menurut Kementerian Kehutanan (Kemenhut), kayu gelondongan yang ditemukan di lokasi banjir Sumatera berasal dari beragam jenis pohon.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Krisdianto, menjelaskan bahwa hasil sampling identifikasi di Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, menunjukkan kayu-kayu tersebut tidak berasal dari satu jenis saja.
Menurutnya, ada jenis Mempisang (Mezzettia sp) dari kelompok rimba campuran, Tanjung (Mimusops sp) dari kelompok kayu indah 2.
“Kemudian Simpur (Dillenia sp) dari kelompok rimba campuran, Pasang (Quercus sp) dari kelompok kayu indah 2, Nyatoh (Madhuca sp) dari kelompok kayu komersial 1, dan batang sawit,” kata Krisdianto, Jumat (5/12/2025).
Kelompok kayu komersial, rimba campuran, dan kayu indah tersebut merujuk pada klasifikasi dalam Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 163/Kpts-II/2003, yang disusun berdasarkan pengenaan iuran kehutanan. Klasifikasi itu meliputi:
1. Kelompok meranti/komersial 1
2. Kelompok rimba campuran/komersial 2
3. Kelompok kayu eboni/indah 1
4. Kelompok kayu indah/indah 2
Terkait asal kayu apakah dari tanaman hutan buatan atau hutan alam, Krisdianto menegaskan masih perlu pengecekan di hulu.
“Kalau pertanyaan asal kayunya dari tanaman (ditanam manusia) atau alam, kami tidak bisa jawab, karena harus cross check dengan yang ada di hulu,” ujarnya.
Kemenhut juga menggunakan alat identifikasi kayu otomatis (AIKO) untuk memastikan identitas kayu tersebut. Namun, menurut Krisdianto.
“AIKO hanya alat bantu. Yang paling berperan petugas di lapangan yang paham jenis kayu,” ujarnya (*)
