BERITA  

Menilik Rekam Jejak dan Gagasan Dr. Budiyono Menuju Bursa Rektor Unila 2027–2031

 

Bandar Lampung — Nama Dr. Budiyono, S.H., M.H. menjadi salah satu figur yang masuk dalam bursa bakal calon Rektor Universitas Lampung atau Unila untuk periode 2027–2031.

Budiyono merupakan akademisi Fakultas Hukum Universitas Lampung yang memiliki latar belakang keilmuan di bidang Hukum Tata Negara. Di lingkungan akademik, ia tercatat sebagai Lektor Kepala dan aktif dalam pengembangan pendidikan serta keilmuan hukum di Unila.

Perjalanan akademiknya juga tidak jauh dari Universitas Lampung. Budiyono menyelesaikan pendidikan sarjana atau S1 di Universitas Lampung pada 1997, kemudian melanjutkan pendidikan magister atau S2 di kampus yang sama dan lulus pada 2004.

Pendidikan doktoralnya ditempuh di Universitas Padjadjaran dan diselesaikan pada 2012.

Tidak hanya berkutat pada dunia akademik, Budiyono juga dipercaya menduduki sejumlah posisi dalam tata kelola kelembagaan Unila. Pada Januari 2025, ia dilantik sebagai Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum Fakultas Hukum Unila.

Posisi tersebut menempatkannya pada bidang yang berkaitan langsung dengan pengelolaan kelembagaan dan administrasi fakultas.

Sebelumnya, Budiyono juga tercatat pernah terlibat dalam pengelolaan program Pascasarjana Fakultas Hukum Unila. Dokumen akademik Unila menunjukkan bahwa ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Program Pascasarjana Program Magister Hukum.

Di bidang keilmuan, Budiyono memiliki sejumlah publikasi yang berkaitan dengan hukum tata negara dan pemerintahan. Beberapa di antaranya membahas fungsi pengawasan DPRD terhadap pemerintah daerah, pengaturan pengisian jabatan kepala daerah berdasarkan prinsip kedaulatan rakyat, serta penyelenggaraan pemilu yang demokratis.

Keterlibatan Budiyono dalam aktivitas akademik juga terlihat dalam berbagai kegiatan ilmiah di lingkungan Unila. Pada 2025, misalnya, ia menjadi salah satu penguji internal dalam sidang terbuka promosi doktor Program Studi Doktor Ilmu Hukum Fakultas Hukum Unila.

Membawa Gagasan Transformasi Unila
Dalam pencalonannya sebagai bakal calon Rektor Unila periode 2027–2031, Budiyono tidak hanya menawarkan pengalaman akademik dan manajerial, tetapi juga membawa gagasan transformasi kampus.

Melalui dokumen visi dan misi yang disusunnya, Budiyono mengusung visi menjadikan Unila sebagai universitas inovatif berkelas dunia yang berdampak bagi masyarakat dan industri pada 2031.

Gagasan tersebut berangkat dari pandangan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi tempat penyelenggaraan pendidikan. Menurut Budiyono, Unila perlu berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan, riset, inovasi dan pengabdian yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, daerah, bangsa hingga dunia.

Dan untuk mewujudkan visi tersebut, Budiyono menawarkan delapan misi yang mencakup peningkatan kualitas pendidikan berstandar internasional, penguatan karakter dan daya saing lulusan, pengembangan penelitian dan inovasi, pengabdian berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, perluasan kemitraan, transformasi digital, internasionalisasi, serta tata kelola universitas yang profesional dan berkelanjutan.

Salah satu gagasan yang menjadi ciri utama programnya adalah “GASPOL”. Akronim tersebut terdiri dari Global Mindset, Adaptive Innovation, Smart Collaboration, Professional Integrity, Optimistic Future, dan Leadership Impact.

GASPOL dirancang sebagai kerangka transformasi Unila yang menggabungkan penguatan mutu akademik, inovasi, tata kelola, kolaborasi, internasionalisasi serta dampak tridarma perguruan tinggi.

Dalam program kerjanya, Budiyono juga menaruh perhatian pada riset dan inovasi. Ia menawarkan penguatan pusat riset unggulan, kolaborasi penelitian lintas disiplin, peningkatan publikasi ilmiah, hilirisasi hasil penelitian, hingga pengembangan riset yang berangkat dari potensi dan persoalan Lampung.

Di sisi lain, hubungan antara kampus dengan pemerintah daerah, industri, dunia usaha dan masyarakat juga menjadi bagian penting dari gagasannya. Unila diarahkan untuk menjadi mitra strategis pembangunan Lampung melalui kajian kebijakan, riset daerah, pendampingan pembangunan dan kolaborasi berbasis data.

Budiyono juga mendorong penguatan hubungan dengan dunia kerja melalui program praktisi mengajar, magang, praktik profesional serta pengembangan jejaring alumni.

Dari Akademisi Hukum Menuju Bursa Rektor

Dengan latar belakang sebagai akademisi hukum, pengalaman dalam pengelolaan kelembagaan fakultas, serta gagasan transformasi pendidikan tinggi yang ditawarkan, Budiyono kini membawa rekam jejak tersebut ke arena pemilihan Rektor Unila periode 2027–2031.

Dokumen visi-misinya menempatkan pendidikan, riset, inovasi, tata kelola, kolaborasi dan internasionalisasi sebagai fondasi utama. Pada akhirnya, seluruh agenda tersebut diarahkan agar Unila tidak hanya unggul dalam ukuran akademik, tetapi juga mampu menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dan dunia industri.

Bagi Budiyono, transformasi Unila bukan pekerjaan satu orang. Ia menekankan pentingnya kerja kolektif yang melibatkan civitas akademika, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, pemerintah, dunia usaha, mitra strategis dan masyarakat.

Dengan semangat tersebut, pencalonannya membawa satu gagasan besar, yaitu mendorong Unila bergerak lebih inovatif, berkelas dunia, sekaligus memberikan dampak nyata bagi Lampung, Indonesia dan masyarakat global.***

 

🎬 Lihat Video
🔊 Klik untuk aktifkan suara
🎬 Lihat Video
🔊 Klik untuk aktifkan suara
Exit mobile version