
Universitas Lampung atau Unila memasuki fase penting menuju Pemilihan Rektor periode 2027–2031. Salah satu sosok yang menawarkan gagasan transformasi bagi kampus ini adalah Prof. Warsito, akademisi yang telah mengabdikan dirinya di Unila sejak 1995.
Perjalanan Prof. Warsito di dunia akademik tidak dibangun dalam waktu singkat. Sejak menempuh pendidikan sarjana di Universitas Brawijaya, hingga melanjutkan studi magister dan doktoral di Prancis, ia telah aktif dalam berbagai kegiatan akademik dan organisasi. Pengalamannya kemudian berkembang melalui berbagai posisi kepemimpinan di Unila, mulai dari Sekretaris Jurusan Fisika, Ketua Jurusan Fisika, Pembantu Dekan Bidang Akademik dan Kerja Sama, Ketua Pusat Pengembangan Kurikulum, Ketua Senat Universitas, hingga Dekan FMIPA.
Berbagai pengalaman tersebut turut diwarnai sejumlah capaian, di antaranya pengembangan Program Doktor MIPA, penguatan akreditasi program studi, pembangunan sistem remunerasi berbasis kinerja, serta keterlibatan dalam penguatan mutu dan internasionalisasi Unila. Pada 2005, Prof. Warsito juga tercatat sebagai Dosen Berprestasi I Unila dan menjadi Finalis Peneliti Muda Nasional LIPI.
Pengalamannya kemudian meluas ke tingkat internasional dan nasional. Prof. Warsito dipercaya menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Paris periode 2019–2022 dan mendapatkan Anugerah Diktiristek sebagai Atdikbud berkinerja terbaik. Setelah melalui seleksi JPT Madya, ia juga dipercaya mengemban sejumlah posisi Deputi di Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.
Berbekal perjalanan panjang tersebut, Prof. Warsito menawarkan visi “GO UNILA”, yakni mentransformasi Universitas Lampung menjadi universitas berkelas dunia yang berdampak dan berintegritas.
Bagi Prof. Warsito, universitas berkelas dunia bukan sekadar persoalan peringkat atau ranking. Keunggulan harus lahir dari mutu akademik, budaya integritas, inovasi, kemandirian institusi, jejaring global, serta kebermanfaatan nyata bagi masyarakat.
Gagasan tersebut dirangkum dalam semangat “GO UNILA : Berakar di Lampung, Berdampak bagi Indonesia, dan Berjejaring dengan Dunia.”
Ia ingin menjadikan Lampung sebagai living laboratory Unila ( ruang untuk belajar, melakukan riset, mengembangkan inovasi, sekaligus menerapkan ilmu berdasarkan persoalan dan potensi nyata daerah, mulai dari pertanian, pangan, pesisir dan kelautan, kehutanan, energi bersih, kesehatan, lingkungan, teknologi, hingga sosial budaya ).
Jika dipercaya memimpin Unila, Prof. Warsito menyiapkan tiga agenda utama sebagai quick wins pada 100 hari pertama.
Pertama, mempercepat peningkatan kualitas akademik dan keberhasilan mahasiswa.
Kedua, memperkuat riset, inovasi, dan dampaknya bagi masyarakat.
Ketiga, mengoptimalkan aset, tata kelola, dan sumber pendapatan universitas secara profesional dan akuntabel.
Di bidang riset, Prof. Warsito ingin menggeser orientasi Unila dari sekadar publish-oriented menjadi impact-oriented. Riset tidak berhenti pada publikasi, tetapi harus mampu bergerak menuju inovasi, hilirisasi, kebijakan, teknologi, maupun layanan yang benar-benar memberikan dampak.
Sementara dalam pengelolaan aset, ia menegaskan bahwa optimalisasi bukan berarti privatisasi atau menjual aset universitas. Aset Unila harus tetap menjadi kekayaan institusi dan dikembangkan untuk memperkuat Tri Dharma, meningkatkan kesejahteraan sivitas akademika, memperbaiki layanan, sekaligus mendukung kemandirian universitas.
Bagi Prof. Warsito, pencalonan sebagai Rektor Unila bukan sekadar upaya mendapatkan jabatan baru. Ia melihatnya sebagai kesempatan untuk membawa kembali pengalaman yang telah ditempa selama puluhan tahun di dunia akademik, diplomasi internasional, dan birokrasi nasional untuk mengabdi kepada kampus yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.
Iapun berharap Pemilihan Rektor Unila 2027–2031 berlangsung secara akademik, bermartabat, objektif, terbuka, dan berintegritas. Menurutnya, siapa pun yang terpilih nantinya harus menjadi rektor bagi seluruh keluarga besar Unila, bukan hanya bagi kelompok yang mendukungnya.
Pada akhirnya, bagi Prof. Warsito, Pilrek Unila bukan sekadar tentang siapa yang akan menduduki kursi rektor. Lebih dari itu, pemilihan ini adalah momentum untuk menentukan seperti apa wajah Universitas Lampung yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dengan prinsip tegas dalam prinsip, santun dalam sikap, dan adil dalam tindakan, Prof. Warsito menawarkan sebuah arah transformasi dengan keunggulan akademik sebagai orientasi, integritas sebagai fondasi, inovasi sebagai penggerak, kemandirian sebagai kekuatan, jejaring global sebagai akselerator, dan kebermanfaatan sebagai ukuran keberhasilan.***