BERITA  

Sejarah Festival Ogoh-Ogoh Lampung: Perjuangan I Made Suarjaya Mengangkat Tradisi ke Panggung Budaya

banner 468x60

Festival Ogoh-Ogoh yang kini menjadi tradisi tahunan menjelang Hari Raya Nyepi di Kecamatan Seputih Raman, Kabupaten Lampung Tengah, memiliki sejarah panjang yang tidak lepas dari perjuangan sejumlah tokoh muda Hindu pada masanya.

Salah satu sosok yang berperan penting dalam lahirnya festival tersebut adalah I Made Suarjaya.

Bersama sejumlah aktivis Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Pengurus Daerah Lampung, ia menggagas penyelenggaraan Festival Ogoh-Ogoh di Seputih Raman pada tahun 1999.

Beberapa tokoh yang terlibat dalam perintisan kegiatan tersebut di antaranya Ketut Sugina, Wayan Eko, Wayan Aryudi, serta sejumlah pemuda Hindu lainnya.

Pada awalnya, gagasan menjadikan Ogoh-Ogoh sebagai festival tidak langsung diterima oleh masyarakat.

Sebagian kalangan menilai Ogoh-Ogoh merupakan simbol sakral dalam tradisi Hindu yang tidak pantas dijadikan ajang perlombaan atau festival.

Namun di tengah berbagai penolakan tersebut, I Made Suarjaya bersama rekan-rekannya tetap memperjuangkan ide tersebut.

Mereka meyakini bahwa selain memiliki nilai religius, Ogoh-Ogoh juga merupakan karya seni yang dapat menjadi media ekspresi kreativitas generasi muda sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat.

Melalui berbagai dialog dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, serta pendekatan kepada pemerintah daerah, gagasan tersebut akhirnya mendapat dukungan untuk diwujudkan.

Festival Ogoh-Ogoh pertama di Seputih Raman digelar pada tahun 1999 dengan memperebutkan Piala Bimas Hindu Provinsi Lampung.

Saat itu Bimas Hindu Provinsi Lampung dipimpin oleh Kepala Bidang Bimas Hindu, Made Suma.

Pembukaan festival dilakukan oleh Camat Seputih Raman saat itu, Loekman Hakim.

Sementara pengamanan kegiatan didukung oleh Kapolsek Seputih Raman saat itu, Ipda Faisol bersama jajaran TNI dari Koramil setempat.

Festival perdana tersebut diikuti oleh delapan peserta Ogoh-Ogoh dari berbagai banjar dan kelompok masyarakat, yakni Rama Dewa (RD) 1, Rama Dewa (RD) 2, Rama Dewa (RD) 4, Rama Gunawan (RG) dengan dua Ogoh-Ogoh, Rama Murti (RM) 1, serta Rukti Harjo (RH) 7 dan RH 4.

Dalam festival pertama tersebut, Rukti Harjo 7 berhasil meraih juara.

Seiring berjalannya waktu, Festival Ogoh-Ogoh Seputih Raman terus berkembang dan menjadi agenda budaya yang dinantikan masyarakat setiap menjelang Hari Raya Nyepi.

Tidak hanya umat Hindu, masyarakat umum bahkan dari luar daerah turut memadati lokasi festival untuk menyaksikan parade patung raksasa yang sarat makna filosofis tersebut.

Perkembangan festival ini juga tidak terlepas dari konsistensi I Made Suarjaya dalam mendorong pelestarian tradisi Ogoh-Ogoh di Lampung.

Bahkan saat menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Lampung, ia kembali menginisiasi penyelenggaraan Parade Ogoh-Ogoh tingkat Provinsi Lampung pada tahun 2008 yang digelar di Lapangan Merah, Bandar Lampung.

Parade tingkat provinsi tersebut menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya tradisi Ogoh-Ogoh diangkat sebagai agenda budaya yang melibatkan peserta dari berbagai daerah di Lampung.

Sejumlah tokoh daerah juga pernah hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Gubernur Lampung saat itu M. Ridho Ficardo serta tokoh adat Lampung Edward Syah Pernong.

Di tingkat Kabupaten Lampung Tengah, festival ini bahkan pernah mencapai puncak partisipasi pada tahun 2015 dengan jumlah peserta mencapai 34 Ogoh-Ogoh.

Saat itu kegiatan tersebut telah masuk dalam agenda budaya daerah dan didukung melalui anggaran APBD Kabupaten Lampung Tengah dengan kepanitiaan yang dikoordinasikan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia Kabupaten Lampung Tengah.

Namun setelah tahun 2015, kegiatan ini tidak lagi mendapatkan dukungan anggaran dari pemerintah daerah sehingga kepanitiaan tidak lagi dikelola oleh Parisada Kabupaten.

Meski demikian, semangat masyarakat untuk menjaga tradisi tidak pernah surut.

Penyelenggaraan festival kemudian dilanjutkan oleh generasi muda melalui Perhimpunan Pemuda Hindu Dharma Indonesia (Peradah) Lampung Tengah.

Hingga kini, festival yang sempat menuai penolakan pada awal kemunculannya tersebut tetap hidup dan terus dilaksanakan oleh masyarakat.

Tahun ini, Festival Ogoh-Ogoh Kecamatan Seputih Raman kembali digelar pada Minggu, 8 Maret 2026.

Sejarah Festival Ogoh-Ogoh Seputih Raman menjadi bukti bahwa sebuah tradisi besar kerap lahir dari keberanian melawan keraguan.

Perjuangan para penggagas, terutama I Made Suarjaya, menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang festival tersebut hingga akhirnya dikenal luas sebagai salah satu perayaan budaya umat Hindu di Provinsi Lampung.

🎬 Lihat Video
🔊 Klik untuk aktifkan suara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RILIS.ID Group Network