METRO — Lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) tak cukup hanya piawai secara teknis. Di tengah persaingan dunia kerja, mereka juga dituntut mampu membaca peluang, memecahkan masalah secara kreatif, serta mengubah gagasan menjadi peluang usaha.
Kebutuhan itulah yang coba dijawab Universitas Lampung (Unila) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Unggulan (PKMU). Sebanyak 20 siswa kelas XII SMK Negeri 2 Metro dibekali pelatihan Design Thinking dan Entrepreneurship di Aula Pertemuan Lembaga Pelatihan Keterampilan (LPK) KAWAMATA, Metro.
Program yang diketuai Dr. Maulana Agung P., S.Sos., M.AB. itu dirancang untuk membentuk pola pikir siswa agar tidak berhenti sebagai pencari kerja atau job seeker. Mereka didorong mulai melihat diri sebagai calon pencipta lapangan kerja atau job creator.
“Yang ingin kita bangun bukan sekadar kemampuan siswa membuat sebuah produk. Lebih penting dari itu adalah cara berpikirnya: bagaimana mereka melihat masalah sebagai peluang, memahami kebutuhan pengguna, kemudian merancang solusi yang memiliki nilai,” kata Maulana.
Menurut dia, siswa SMK pertanian sebenarnya memiliki modal yang kuat. Selain keterampilan teknis, mereka dekat dengan berbagai komoditas lokal yang berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Tantangannya, kata Maulana, adalah mengubah pengetahuan dan keterampilan tersebut menjadi inovasi yang memiliki nilai ekonomi.
Berdasarkan hasil pengabdian, salah satu persoalan yang dihadapi lulusan SMK pertanian di Kota Metro adalah kecenderungan untuk menjadi pencari kerja. Tingkat kewirausahaan yang tercatat dalam kajian program tersebut baru mencapai 13,5 persen.
Kondisi itu salah satunya berkaitan dengan proses pembelajaran yang masih banyak menitikberatkan aspek teknis budidaya. Sementara kemampuan berpikir kreatif, literasi kewirausahaan, serta pengalaman langsung merintis usaha masih perlu diperkuat.
Karena itu, pelatihan tidak hanya berisi teori. Para peserta mengikuti rangkaian kegiatan mulai Design Thinking, workshop Entrepreneurship dan Business Model Canvas (BMC), pendampingan pembuatan prototipe, mentoring bisnis hingga pameran inovasi.
Pendekatan experiential learning digunakan agar siswa mendapat pengalaman langsung. Mereka diajak mengidentifikasi masalah, menemukan peluang, merancang solusi, kemudian menerjemahkannya menjadi gagasan produk atau usaha.
Hasilnya, pengetahuan peserta dalam aspek Design Thinking dan kewirausahaan menunjukkan peningkatan. Siswa juga mulai mampu menggunakan metode pemecahan masalah secara sistematis dan merancang konsep inovasi berbasis komoditas pertanian lokal.
Beberapa komoditas yang menjadi sumber ide antara lain singkong, pisang, dan kopi.
Gagasan tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk ilustrasi dan gambar konsep yang lebih terstruktur. Program itu juga menargetkan lahirnya sedikitnya lima prototipe produk atau rencana bisnis inovatif.
Maulana mengatakan, prototipe bukanlah titik akhir. Justru, tahap berikutnya menjadi penentu apakah sebuah gagasan benar-benar memiliki peluang di pasar.
“Setelah punya ide dan prototipe, tahap berikutnya justru sangat penting, yaitu membuat Minimum Viable Product atau MVP, kemudian mengujinya kepada calon pengguna. Dari sana siswa belajar bahwa inovasi bukan hanya soal punya ide bagus, tetapi juga soal apakah solusi itu benar-benar dibutuhkan,” ujarnya.
Guru SMK Negeri 2 Metro Pazar Rakasiwi mengapresiasi pelatihan yang diberikan kepada para siswa.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas pelatihan Design Thinking yang diberikan lembaga pengabdian masyarakat Unila pada siswa-siswi kami agar lebih kreatif dan berinovasi,” kata Pazar.
Tak berhenti pada peningkatan kompetensi siswa, program tersebut juga diarahkan untuk membangun ekosistem kewirausahaan di lingkungan sekolah.
Tim pengabdi telah menyusun modul pelatihan terstruktur yang dapat dimanfaatkan pihak sekolah dan diintegrasikan dalam kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) maupun ekstrakurikuler.
Maulana menegaskan, keberlanjutan menjadi kunci agar pelatihan tidak berhenti setelah program pengabdian selesai.
Tahap berikutnya diarahkan pada pengembangan prototipe fisik maupun layanan, market testing, serta pelaksanaan Demo Day yang melibatkan praktisi dan pelaku UMKM lokal.
“Harapannya, siswa tidak berhenti pada pengalaman mengikuti pelatihan. Mereka punya keberanian untuk mencoba, menguji gagasan, menerima umpan balik, lalu memperbaikinya. Itu bagian penting dari proses menjadi seorang entrepreneur,” ujarnya.
Program tersebut diharapkan menjadi model pemberdayaan vokasional yang berkelanjutan dan adaptif serta dapat direplikasi di SMK lain di Provinsi Lampung.
Dengan begitu, pendidikan vokasional tidak hanya mencetak lulusan yang siap mencari pekerjaan, tetapi juga generasi muda yang mampu membaca potensi di sekitarnya dan mengubahnya menjadi nilai ekonomi. ***
