GMNI Lampung Sebut Gus Gudfan Layak Pimpin PBNU

banner 468x60

Gus Gudfan Arif Ghofur dinilai menjadi salah satu figur yang layak dipertimbangkan dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Pandangan tersebut disampaikan aktivis alumni GMNI Lampung sekaligus tokoh muda Lampung, Roma. Ia menilai Gus Gudfan memiliki perpaduan pengalaman pesantren, organisasi, dan dunia usaha yang relevan dengan tantangan NU ke depan.

Gus Gudfan merupakan putra KH Abdul Ghofur, pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan. Ia menempuh pendidikan pesantren di Denanyar, Jombang, sebelum melanjutkan pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Darul Ulum Jombang.

Sejak 2003, Gus Gudfan menekuni dunia usaha dan memiliki pengalaman di berbagai sektor, mulai dari sektor riil, minyak dan gas, petrokimia, teknologi informasi dan telekomunikasi, hingga pertambangan batu bara.

Pengalaman tersebut berjalan beriringan dengan kiprahnya di lingkungan Nahdlatul Ulama. Ia pernah dipercaya sebagai bendahara PP Pagar Nusa, RMI PWNU Jawa Timur, hingga menjadi Plt Bendahara Umum PBNU pada 2022.

Pada 2024, pengalaman Gus Gudfan di bidang usaha juga dipercaya PBNU untuk turut bertanggung jawab dalam pengelolaan bidang pertambangan organisasi.

Bagi Roma, perjalanan tersebut menunjukkan Gus Gudfan tidak hanya memiliki akar kuat dalam tradisi pesantren, tetapi juga memahami persoalan ekonomi secara praktis.

“Saya melihat Gus Gudfan bukan hanya sebagai sosok yang lahir dari lingkungan pesantren, tetapi juga sebagai figur yang memahami realitas ekonomi. Pengalaman beliau di dunia usaha dan organisasi menjadi modal penting untuk mendorong NU semakin mandiri dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Roma.

Menurut dia, pemahaman terhadap ekonomi kerakyatan menjadi salah satu modal penting bagi kepemimpinan NU di masa mendatang.

Ia menilai kemandirian ekonomi umat tidak cukup dibangun melalui pertumbuhan usaha semata, tetapi juga membutuhkan pembukaan akses, penciptaan peluang, serta pengelolaan sumber daya yang mampu memberikan manfaat bagi pesantren, UMKM, dan masyarakat lapisan bawah.

“NU membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara kultural, tetapi juga memiliki keberanian untuk membangun kemandirian ekonomi umat. Dalam pandangan saya, Gus Gudfan memiliki perpaduan pengalaman tersebut,” katanya.

Roma menambahkan, tantangan NU ke depan membutuhkan figur yang mampu mempertahankan akar tradisi pesantren sekaligus beradaptasi dengan perubahan zaman.

Ia menyebut dukungannya terhadap Gus Gudfan merupakan pandangan pribadi sebagai bagian dari generasi muda Lampung yang menginginkan proses regenerasi kepemimpinan organisasi berlangsung terbuka dan konstruktif.

“Saya melihat Gus Gudfan layak diberi ruang untuk maju dan menawarkan gagasan terbaiknya kepada warga NU. Pada akhirnya, keputusan tetap berada dalam mekanisme Muktamar dan menjadi hak para pemilik suara di dalam organisasi,” ujarnya.

Nama Gus Gudfan sendiri menjadi salah satu figur yang diperbincangkan dalam bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar ke-35. Peta dukungan dinilai masih dinamis dan belum ada kandidat yang dapat dipastikan unggul.

Bagi Roma, kontestasi kepemimpinan PBNU seharusnya tidak semata-mata berorientasi pada siapa yang akan terpilih sebagai Ketua Umum.

“Yang terpenting bukan sekadar siapa yang menjadi Ketua Umum, tetapi siapa yang mampu membawa NU tetap berakar kuat pada tradisi pesantren sekaligus bergerak maju menghadapi tantangan ekonomi, sosial, dan perubahan zaman,” pungkasnya.

🎬 Lihat Video
— ✕
🔊 Klik untuk aktifkan suara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *