BERITA  

Mangrove Petengoran Rusak, Pelestari Dorong Pemeriksaan dan Pemulihan

banner 468x60

PESAWARAN – Kerusakan dan kematian sejumlah batang mangrove di kawasan Hutan Mangrove Petengoran, Desa Gebang, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, menjadi perhatian masyarakat pegiat pelestarian mangrove.
Salah seorang warga dan pejuang pelestari mangrove, Toni, mengatakan hasil peninjauan bersama Mitra Bentala menunjukkan adanya sejumlah batang mangrove yang mengalami kematian.
Menurut Toni, kondisi tersebut diduga tidak hanya dipengaruhi faktor alam, tetapi juga berkaitan dengan terganggunya sirkulasi pasang surut air laut serta sedimentasi lumpur di sekitar kawasan mangrove.
“Dari hasil turun lapangan, kami melihat adanya batang mangrove yang mati. Salah satu indikasinya adalah kondisi pasang surut air laut yang tidak normal, sehingga pertumbuhan mangrove terganggu,” ujar Toni.
Toni juga menyoroti adanya sedimentasi lumpur yang diduga berasal dari aktivitas tambak di sekitar kawasan. Lumpur tersebut dinilai berpotensi menumpuk di sekitar hutan mangrove dan mengganggu sistem pernapasan akar mangrove.
Selain itu, Toni menyebut adanya aliran air dari aktivitas tambak yang mengarah ke kawasan mangrove maupun muara sungai. Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi menyebabkan penumpukan sedimentasi di sekitar muara dan memengaruhi sirkulasi air menuju kawasan mangrove.
“Ini perlu dilihat secara menyeluruh. Kematian mangrove tidak selalu karena faktor alam. Ada juga kemungkinan pengaruh dari aktivitas usaha maupun perilaku masyarakat,” katanya.
Toni mencontohkan aktivitas masyarakat yang berpotensi merusak mangrove, seperti mencari cacing laut dengan cara merusak akar mangrove serta membuang sampah ke sungai yang kemudian menumpuk di kawasan muara.
Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Komunikasi antara pelaku usaha, masyarakat, pemerintah desa, dinas terkait, dan kelompok pelestari mangrove dinilai perlu diperkuat untuk mencegah kerusakan yang lebih luas.
Toni juga mendorong adanya pemantauan dan pendampingan secara rutin terhadap kondisi kawasan mangrove, khususnya di sekitar permukiman dan aktivitas usaha.
“Masyarakat harus diberikan akses dan keberanian untuk menyampaikan apabila menemukan kondisi atau kejadian yang berpotensi merusak mangrove. Pelestarian ini membutuhkan keterlibatan semua pihak,” pungkasnya.***

🎬 Lihat Video
🔊 Klik untuk aktifkan suara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *